Novel Pertama Saya Adalah Nyawa Yang Akan Hidup Abadi
"Jalang Malang"
Judul yang saya lantangkan dengan berani kepada dosen pembimbing dan validator itu akhirnya maju ke penerbit dengan gagah berani. Meskipun fisiknya masih banyak cacat kanan kiri dan masih terkesan memaksa, saya harus usahakan buku impian itu tampil sebelum bulan Juli. Sebab jika tidak, mungkin sampai pada tanggal tulisan ini diposting saya akan menjadi fosil di kampus.
....
Setelah sekian lama akhirnya saya bisa membuka akun ini lagi dan hendak menamatkan sesuatu yang saya mulai pada tahun 2024 lalu. Mungkin terlihat sedikit berlebihan tapi jika tidak dilebih-lebihkan maka kita akan mati tanpa menyisakan kenangan 7 detik yang berharga di dunia ini.
Waktu itu saya berada di bulan Agustus 2023. Tahun di mana saya benar-benar krisis identitas (meskipun sampai sekarang masih krisis juga sih). Setelah kegiatan KKN itu rampung saya harus segera beranjak untuk fokus pada misi "Tamat Kuliah" dan "Tepat Waktu". Dengan kemantapan hati, saya berani mengambil langkah lebar untuk terjun dan bergelut berbulan-bulan dengan menulis novel. Saya kira menulis akan semudah itu. Rupanya saya menemukan banyak sekali ujian pra-sidang yang mampu membuat saya kehilangan nafsu makan.
Saya masih ingat betul ketika saya sudah masuk di semester 7. Teman seperjuangan sudah menentukan langkahnya masing-masing. Kita sudah mulai berjalan dengan langkah yang berbeda-beda. Biasanya kita akan sering nongkrong di emperan Teras Budaya FIB UB dengan semangkuk bakso yang kuahnya tidak begitu panas tapi selalu habis disesap sampai titik kuah penghabisan. Teman sudah mulai sibuk dengan tema skripsi masing-masing. Bahkan di antara kita masih ada yang berjuang menamatkan mata kuliah yang belum tuntas. Senyum kecut itu tidak bisa saya sembunyikan lagi. Ketika berangkat ngampus harus berpapasan dengan wajah-wajah baru. Kami yang seangkatan akan sering bertemu di kursi-kursi tunggu depan prodi untuk mengantri bimbingan. Selebihnya kami akan bertemu di sudut perpustakaan, dan kursi-kursi kosong sambil memandang laptop dengan wajah tak bersemangat.
Saya sedikit banyak bisa bersyukur karena sudah memutuskan untuk membuat pengkaryaan. Meskipun di Sastra Jepang masih sedikit yang membuat pengkaryaan yang sama. Sehingga saya harus memperbanyak literasi dan mencari informasi sebanyak mungkin. Dalam proses pencarian itu ada kalanya saya mendapati jalan buntu, berkelok tajam bahkan saya hanya mampu berbaring di atas kasur indekos sambil mencoba merangkai kalimat apa yang akan saya tulis di halaman berikutnya. Kondisi laptop pada waktu itu benar-benar mengkhawatirkan. Saya banyak khawatir ketika hari berganti begitu cepat sedangkan saya tidak memiliki progres yang cepat. Saya masih ingat ketika ide menumpuk di kepala tapi saya tidak punya benang merah untuk menyambung semua itu menjadi susunan kalimat yang padu. Saya mencari ide sambil menyelami air, mendaki gunung, menyesap kuah bakso hingga pergi menjelajahi tempat-tempat yang sempat membuat dada sesak setengah mati.
Saya menantang rasa sakit, takut, pedih dan mencoba berdamai dengan mereka semua. Dengan harapan jika semua yang kusut di dalam diri saya selesai maka ide itu akan tersusun rapi di kepala. Hingga ada moment di mana saya duduk di kursi komputer SAC FIB UB paling kiri dan mulai menarik napas dan membuat benang merah itu. Saya menyusun kalimat demi kalimat. Terkadang saya berhenti sejenak untuk mengambil napas. Rasanya trauma-trauma yang saya ciptakan di cerita itu membuat saya seakan membuka luka lama.
Dari sekian drama hampir 9 bulan lamanya saya bisa maju di depan kursi pembimbing saya yang sangat luar biasa, Sensei Padmo Adi Nugroho, S.S., M.Hum. Saya bisa mengajukan naskah utuh yang membuat hati kami berdua sama-sama lega. Lega bagi saya karena nyawa saya seolah tersambung kembali. Lega bagi Padmo Sensei mungkin,
"Ya Gusti, Anak menungsa iki wis rampung tenan."
Saya masih ingat waktu pertama kali mengajukan diri untuk menjadi anak bimbing beliau. Dikala orang-orang mengatakan bahwa jika jadi anak bimbing beliau kemungkinan akan lama selesainya tapi saya mencoba untuk tetap memantapkan diri untuk maju menemui beliau. Saya rasa skripsi saya ini akan lebih cocok jika digarap di bawah bimbingan beliau.
"Sensei, saya atas nama Sinta Fadila hendak mengajukan diri untuk menjadi anak bimbing Sensei. Apakah Sensei berkenan membimbing saya dalam proses pengkaryaan?"
"Ya, dengan senang hati"
Kalimat "Ya" itu membuat saya begitu bungah dan mulai menceritakan rencana riset, mengajukan judul, tema, alur dan kerangka-kerangka naskah. Saya kagum dengan beliau yang begitu antusias bahkan banyak sekali memberi insight dan berbagai macam literasi yang begitu luar biasa.
Singkat cerita kerangka mentah itu akhirnya menjadi sebuah naskah utuh dengan tebal buku 320 halaman dan resmi ber-ISBN. Dibantu oleh penerbit Madza Media akhirnya saya bisa menerbitkan novel perdana saya. Ya Tuhan ini seperti mimpi. Saya terus membuka buku itu satu persatu. Nama-nama itu akhirnya abadi di sana. Akhirnya rasa rindu, sedih, marah, haru itu telah menjadi sebuah karya yang akan segera dikonsumsi oleh pembaca dan abadi.
Saya bergegas untuk membuat seminar bedah buku yang akan dihadiri oleh umum. Saya menata barang dengan perasaan yang begitu berdebar-debar. Rasanya enggan untuk tidur karena membayangkan bagaimana jika besok itu hanya khayalanku dan aku hanya bermimpi. Bagaimana kesan audiens ketika mendengar dah melihat saya tampil di depan podium. Rasanya ini lebih mendebarkan dari pada tertolak melakukan penelitian seperti kala itu :(
Hari itu akhirnya datang. Saya dengan semangat menyiapkan ruangan seorang diri dan meletakkan banner bedah buku di ruangan Lt 2.3 FIB UB. Saya menanggalkan sepatu hak yang menyakitkan itu di ujung ruangan. Karena belum terbiasa bergerak dengan sepatu aneh itu akhirnya aku lebih memilih naik turun tangga dengan bertelanjang kaki dari pada saya harus tersungkur karena sepatu itu.
"Bu, saya berhasil berdiri di sini. Saya membawakan kisah Ibu yang ciamik ke semua orang. Ibu akan abadi menjadi peran paling dinantikan pembaca di akhir cerita"
Batinku setelah semua audiens mulai memfokuskan matanya kepadaku.
Ini bukan akhir tapi ini adalah awal yang akan membawa saya menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya. Setelah banyak menelan literasi filsafat dan banyak diskusi dengan orang-orang yang luar biasa akhirnya saya paham bahwa saya adalah manusia kecil yang masih belum terlalu paham dengan kehidupan yang nyata.
sampai jumpa di tulisan berikutnya....


Komentar
Posting Komentar